tekanan mental karena orang tua strich parent

 

https://share.google/pl3SzDPxqCK9U7dYx

saya memiliki orang tua yang strict parent atau sangat keras sering dipandang sebagai pola asuh yang bertujuan baik—agar anak disiplin, berprestasi, dan tidak salah pergaulan. Namun, kenyataan di realita menunjukkan bahwa pola asuh yang terlalu mengontrol, menuntut kesempurnaan, dan minim empati dapat meninggalkan luka psikologis mendalam. Salah satu permasalahan utama yang muncul adalah kerusakan mental berupa kecemasan kronis, rendah diri, dan ketakutan berbuat salah. Seorang anak yang tumbuh di lingkungan seperti ini biasanya merasa hidupnya selalu diawasi, keputusannya dipertanyakan, dan kesalahannya dibesar-besarkan. Akibatnya, ia mengembangkan kepribadian yang sering ragu mengambil keputusan, sulit percaya diri, dan mudah menyalahkan dirinya sendiri.

Permasalahan ini tidak muncul tiba-tiba. saya tumbuh dalam pola interaksi yang terstruktur dalam kesehariannya: setiap nilai rapor, cara bicara, pilihan teman, bahkan hobi, sering menjadi objek kritik. Ketika orang tua terlalu keras menuntut, anak menjadi takut mengecewakan. Lama-kelamaan, hal ini membuat anak kehilangan kepercayaan pada kemampuannya sendiri. Kerusakan mental semacam ini bisa terlihat melalui perilaku menarik diri, sulit mengungkapkan pendapat, atau selalu merasa dirinya tidak cukup baik. Bahkan ketika anak sudah dewasa, pola pikiran ini sering terbawa, sehingga menghambat kehidupan akademik, karier, dan hubungan sosialnya.

penyebab utama mengapa pola asuh strict parent dapat merusak kondisi mental saya:

1. Tuntutan Perfeksionisme yang Tidak Realistis
Orang tua saya yang keras kepala sering kali memiliki standar tinggi yang harus dipenuhi anak, tanpa mempertimbangkan kemampuan, minat, atau proses tumbuh kembangnya. Kesalahan kecil dianggap kegagalan besar, membuat saya lebih takut gagal daripada berani mencoba. Dampaknya, saya tumbuh dengan pola pikir perfeksionis yang menyakitkan: selalu merasa kurang dan takut salah.

2. Minimnya Validasi Emosi
Saya  tidak diberi ruang untuk menyampaikan keluh kesah, marah, sedih, atau kecewa. Ketika menangis dianggap lemah atau mengeluh dianggap tidak tahu bersyukur, hal ini membuat saya belajar menekan emosinya sendiri. Emosi yang tidak diproses akan menumpuk dan berakhir sebagai kecemasan, depresi, atau ledakan emosi di kemudian hari.

3. Lingkungan yang Penuh Kontrol namun Minim Komunikasi
Pola komunikasi yang hanya satu arah—orang tua bicara, saya mendengar—membuat anak tidak pernah belajar menyampaikan pendapat atau membangun batasan pribadi. saya  merasa diri saya tidak memiliki kendali atas hidupnya sendiri. Ketidakberdayaan ini pada akhirnya merusak rasa percaya diri dan keyakinan bahwa dirinya berharga.sehingga saya juga jadi gampang untuk menipu orang tua saya 

CARA SAYA MENGATASI MASALAH INI
1. Membangun Batasan Personal dan Emosional
Langkah pertama adalah menyadari bahwa kebutuhan diri sendiri sama pentingnya dengan harapan orang tua.saya bahkan ketika sudah dewasa berhak menentukan hidup saya sendiri. Membuat batasan tidak harus dalam bentuk perlawanan, tetapi lebih kepada mengontrol bagaimana kita bereaksi. Misalnya, ketika orang tua menuntut berlebihan, alihkan fokus pada tujuan pribadi: “Aku menghargai pendapat mereka, tetapi pilihan hidupku tetap punyaku.” Dengan membangun batasan emosional, seseorang bisa mengurangi rasa bersalah dan tekanan psikologis yang selama ini tertanam.

2. Membangun Lingkungan Dukungan yang Sehat
Salah satu cara paling efektif memulihkan diri dari luka pola asuh keras adalah menemukan lingkungan yang mau mendengarkan tanpa menghakimi. Bisa dari teman, komunitas kampus, mentor, guru, atau konselor. Ketika seseorang mendapatkan validasi dari lingkungan luar, pola pikir yang rusak dapat perlahan diperbaiki. Dukungan sosial membantu seseorang memahami bahwa dirinya sebenarnya berharga, didengar, dan dihargai. Lingkungan sehat menjadi penyeimbang dari pengalaman negatif di rumah.

3. Melatih Self-Compassion atau Belas Kasih pada Diri Sendiri
Self-compassion berarti memperlakukan diri sendiri dengan kelembutan yang mungkin tidak pernah didapatkan dari orang tua. Alih-alih menyalahkan diri atas setiap kegagalan kecil, seseorang belajar berkata pada dirinya:
“Aku manusia, aku boleh salah. Kesalahanku tidak menentukan nilai diriku.”
Latihan ini dapat dilakukan melalui jurnal emosi, afirmasi positif, meditasi, atau sekadar memberi jeda pada diri ketika merasa kewalahan. Dengan self-compassion, seseorang membangun ulang citra dirinya dari dalam, mengganti suara kritik internal menjadi suara dukungan yang menenangkan.

1



Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESUM Unusa Ambil Sumpah 136 PPG PRAJAB 136 PPG Prajab

Resume materi prodi